Dibawah bengkel kerja sederhana yang berada disamping jembatan Purus, terlihat seorang lelaki tua yang gigih mengolah batu nisan, pusara, dan prasasti. Dengan sendok semen dia mengaduk dan mengolah karyanya tersebut.
Lelaki tua itu bernama Burhan (64), yang akrab dipanggil Buyuang Tando (Buyung Tanda). Pekerjaan membuat batu nisan, pusara, dan prasasti menjadi mata pencahariannya untuk menghidupi keluarganya.
“Ini usaha orangtua saya sejak 1953. Setelah beliau meninggalkan kami, tahun 1995 saya melanjutkan pekerjaan ini,” ujarnya pada Haluan, Senin (11/4) dengan bangga.
Pria yang akrab disapa Buyuang Tando ini sangat optimis menggeluti usaha ini. Dari usaha ini sebulannya ia bisa menggantongi 5 juta rupiah. Itu angka minimal, jika banyak orderan, dalam sehari ia bahkan kadang-kadang menerima 3 juta dalam sehari. “Seharinya, minimal 2 pesanan nisan, harganya 300-an,” terangnya.

